Mental Health

Kesehatan Mental dan Mereka yang Termarginalkan | by SAYT. | Jan, 2024

Menjadi sehat secara fisik maupun mental adalah hak tiap manusia. Idealnya memang seperti itu, tapi bagaimana dengan realitanya? Apakah tiap manusia sudah mendapatkan hak mereka untuk sehat secara mental?

Membicarakan mengenai sehat secara mental, World Health Organization (WHO) mendefinisikan kesehatan mental sebagai keadaan sejahtera dimana individu menyadari kemampuannya, dapat mengatasi tekanan hidup yang normal, dapat bekerja secara produktif dan bermanfaat, dan dapat memberikan kontribusi kepada komunitasnya.

Seiring dengan perkembangan jaman, pemahaman masyarakat mengenai kesehatan mentalpun juga meningkat. Masyarakat mulai sadar akan pentingnya kesehatan mental, yang dapat dilihat dari campaign tentang kesehatan mental, pesan-pesan mengenai kesehatan mental yang disebarkan di media sosial, dan melalui berbagai forum diskusi.

Namun, apakah itu sudah cukup? Apakah sampai situ saja? Apakah seluruh lapisan masyarakat sudah memiliki pemahaman yang sama tentang pentingnya kesehatan mental? Bagaimana dengan masyarakat marginal?

Masyarakat yang terpinggirkan — atau yang termarginalkan adalah orang-orang yang mengalami marginalisasi ekonomi, sosial, politik, dan budaya karena faktor-faktor di luar kendali mereka, termasuk kemiskinan, diskriminasi, kekerasan, trauma, dislokasi, dan pencabutan hak.

Keadaan-keadaan kurang menguntungkan itu memaksa mereka untuk bisa bertahan hidup. Bagi mereka yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan, bagaimana mereka bisa peduli dengan kesehatan mental, jika ada anggota keluarga yang harus diberi makan? Bagaimana mereka bisa sadar akan adanya kesehatan mental, jika mencari nafkah adalah prioritas mereka setiap harinya? Berbeda dengan kita yang sedikit lebih beruntung, mungkin mereka lebih sering hidup berkejaran dengan waktu. Kalau lengah sedikit, listrik padam dan air mati karena belum bayar tagihan. Lengah sedikit, beras habis dan tak ada makan untuk besok pagi.

Berdasarkan penelitian juga diketahui bahwa individu dengan kelas sosial ekonomi rendah, memiliki pengalaman diskriminasi dan kekerasan cenderung lebih rentan terhadap kesehatan mental yang buruk dan mengalami berbagai masalah mental seperti psychological distress, kecemasan, depresi, dan lain sebagainya.

Selain adanya gap pemahaman dan kerentanan terhadap kesehatan mental, faktor lain yang perlu digarisbawahi adalah akses terhadap bantuan dan fasilitas kesehatan mental. Faktanya, terdapat kesenjangan pengobatan yang mengacu pada perbedaan proporsi orang yang menderita penyakit dan orang yang menerima perawatan. Kesenjangan penderita gangguan jiwa ini melebihi 50% di seluruh negara di dunia dan mencapai hampir 90% di negara-negara berpenghasilan rendah. Selain itu, di Indonesia juga terdapat gap atau kesenjangan antara jumlah tenaga kesehatan mental dan kebutuhan akan pelayanan di masyarakat. Tidak hanya dari sisi jumlah, sebaran tenaga kesehatan mental juga belum merata, masih terkonsentrasi di kota-kota besar saja sehingga belum mampu untuk melingkupi tiap masyarakat di berbagai daerah secara merata dan maksimal.

Kita perlu sadar bahwa selama ini sehat secara mental adalah sebuah privilege yang pada kenyataannya tidak didapatkan oleh semua orang. Adapun diskusi mengenai kesehatan mental khususnya di Indonesia sepatutnya tidak lepas dari isu-isu kelas agar kita sama-sama mampu mengatasi kesenjangan terhadap masalah ini. Karena selama ada kesenjangan, maka kita tidak akan memperoleh kesetaraan. Dan untuk memperoleh kesetaraan, maka kita perlu mengatasi kesenjangan.


Source link

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button